Rabu, 27 Sya'ban 1438 H | 24 Mei 2017

PEKANBARU  - Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR) mengundang Profesor terbaik di Chiba Universitas, Jepang Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD untuk memberikan kuliah umum tentang ilmu bidang Remote Sensing, Kamis (25/2).

Selain Kuliah Umum dengan mengangkat tema Development of Advance Microwave Remote Sensed Sensor for Earth and Planetary Ovservation, acara yang diadakan di Aula Pascasarjana UIR tersebut juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara kedua universitas tersebut.

Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD merupakan penemu Circularly Polarised Synthetic Aperture Radar yang dipergunakan untuk pesawat baik yang berawak ataupun tidak, hingga dipergunakan until microsatelite juga. Beliau berasal dari Indonesia yang kini berkarya di Jepang.

Josaphat Tetuko kelahiran Bandung 25 Juni 1970 tersebut saat ini telah mematenkan lebih dari 700 penemuannya yang terdaftar di 118 negara, terutama radar satelit, pengamatan satelit, pengamatan bumi berbasis microwave remote sensing dan mobile satelite communications.

Selain itu ia juga penemu circularly polarized synthetic aperture untuk pesawat tanpa awak dan small satellte, serta radar peramal cuaca 3 dimensi.

Rektor Universitas Islam Riau (UIR) Prof. Detri Karya, ada banyak persoalan yang terjadi di Riau dan Indonesia seperti kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, longsor, hingga perminyakan dan pertambangan. Semua solusi atas permasalahan tersebut dimiliki oleh Josaphat Tetuko.

Detri mengatakan dalam waktu dekat antara UIR dan Pembicara Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo Ph.D dari Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang akan bekerjasama dalam mendirikan Center for Remote Sensing (Pusat Penelitian Pengindraan Jarak Jauh) di Riau.

"Setelah ini, kita akan segera menyusun proposal, pada bukan April kemungkinan peralatan sudah bisa didatangkan. Kemungkinan pada tahun ini juga Center for Remote Sensing di UIR sudah bisa berjalan," ujar Detri Karya usai Kuliah Umum.

Center for Remote Sensing nantinya akan menjadi sarana penelitian dan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan dan mengatasi persoalan alam di Riau salah satunya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi setiap tahunnya.

"Dengan alat yang dimiliki Prof. Josaphat akan cepat diketahui sumber api dan kedalaman gambut," ujarnya lagi.

Sementara, Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo pihaknya menghibahkan radar cuaca kepada Universitas Islam Riau yang fungsinya bisa dilakukan untuk observasi kondisi iklim di Riau dan Sumatera.

"Kita juga bekerjasama dalam pendidikan dan riset. Kita ingin membangun Center for Remote Sensing atau Pusat Penelitian Pengindraan Jarak Jauh di UIR," ujar pria yang masih berkewarganegaraan Indonesia tersebut meski telah beberapa kali ditawarkan pindah kewarganegaraan Jepang.

Di hadapan peserta kuliah umum, Josaphat mengatakan prestasi yang disandangnya saat ini bukan tanpa halangan dan rintangan. Bahkan saat masih mengabdi di Indonesia tahun 1997 ide dan temuannya tidak dapat diterima di Tanah Air.

Meski penemu Mobile Satelit Communication System yang terpasang di semua kereta cepat Jepang tersebut tidak diterima di Indonesia namun di Jepang ia mendapat tempat dan bahkan menjadi profesor terbaik di negeri Matahari Terbit itu.

"Saya sudah membuat radar, pesawat dan satu lagi cita-cita terakhir saya yakni membuat satelit yang dalam waktu dekat terwujud," jelasnya. Satelit yang akan diluncurkan 2018 mendatang akan dilabeli dengan identitas Indonesia, yakni dinamai Satelit Tanah Air I. (MC Riau/mad) 

Berita Terkait