Senin, 1 Syawal 1438 H | 26 Juni 2017

PELALAWAN - Majelis ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pelalawan mendesak aparat hukum untuk segera menertibkan perdagangan petasan (mercon,red). Pasalnya, masyarakat di Kabupaten Pelalawan khususnya Kecamatan Pangkalan Kerinci mulai resah dengan suara ledakan petasan yang terdengar pada saat aktifitas ibadah salat Taraweh. Suara ledakan petasan yang cukup memekakkan pendengaran tersebut membuat ibadah salat menjadi tidak khusuk.

Informasi ini dibeberkan Ketua MUI Kabupaten Pelalawan H Iswadi M Yazid LC, Kamis (8/6) di Pangkalankerinci. Katanya, suara ledakan petasan pada saat ibadah salat taraweh berlangsung tersebut, terasa sangat mengganggu. Pasalnya, suaranya yang bising membuat jamaah menjadi tidak nyaman beribadah salat taraweh.

" Jadi, kita menilai bunyi petasan atau mercon pada malam hari ini sangat menganggu kenyamanan masyarakat muslim dalam menjalan ibadah, khususnya saat melaksanakan salat tarawih. Untuk itu, maka kita dari MUI Pelalawan meminta dan mendesak agar pihak kemanan seperti Kepolisian dan Satpol PP serta Koramil 0313 KPR agar turun kelapangan melakukan razia petasan, sebab bunyi petasan sangat mengganggu ibadah salat taraweh," ujarnya.

Lanjutnya, jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka pihaknya takut akan ada tindakan main hakim sendiri yang dilakukan masyarakat. Pasalnya, masalah ini menyangkut kenyamanan dalam melaksanakan peribadatan. Sedangkan sejauh ini, penjualan petasan di Kabupaten Pelalawan terlihat semakin marak dan kian menjamur.

" Kita tahu, selain menganggu kenyamanan umat islam menjalani ibadah salat, petasan juga sangat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri," sebutnya.

Selain itu, sambungnya, membunyikan petasan dan kembang api juga tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga kegiatan itu haram hukumnya. Sedangkan untuk memeriahkan bulan suci ramadan 1438 H ini, tidak harus disambut dengan suara petasan dan kembang api.

" Dan berjualan petasan serta kembang api, tidak akan memberikan manfaat sebab barang yang dijual itu berbahaya bagi keselamatan orang lain. Sehingga uang yang diperoleh itu sifatnya haram. Sedangkan kewenangan menertibkan penjualan petasan dan kembang api itu ada pada pemerintah dan aparat hukum. Jadi kami (MUI,red) hanya sekedar mengingatkan dan meminta agar Aparat terkait segera menertibkan peredaran petasan ini. Dengan tidak adanya aktifitas petasan ini, maka ummat muslim akan lebih khusuk dalam menjalankan ibadah khususnya salat taraweh," pungkasnya. (MC Riau/Iin)

Berita Terkait