Senin, 1 Syawal 1438 H | 26 Juni 2017

Gubernur Riau di Dumai. (MC)

PEKANBARU - Dumai, sebuah kota di Provinsi Riau yang terletak 188 km dari Ibu Kota Pekanbaru sejauh ini masih memiliki sejumlah masalah.

Selain masalah infrastruktur, pencemaran laut, dan masalah maraknya penyeludupan, masalah air bersih juga manjadi "motto" tersendiri bagi kota ini. 

Siapa yang sangka, kota yang dijadikan sebagai landasan transit industri perminyakan ini ternyata kesulitan dalam memenuhi keputuhan air bersih labih dari 350.000 masyarakatnya.

Pada permasalahan yang satu ini, pemerintah daerah setempat beralasan minimnya anggaran yang masuk, sehingga membuat semua rencana pembangunan proyek air bersih menjadi terkendala dan selalu tertunda kesiapannya.

Untuk mendapatkan sumber air bersih, masyarakat di kota itu harus antre di beberapa tempat penyedia air bersih dengan jatah dua drigen 50 liter per Kepala Keluarga (KK). Dengan alasan ketidaksabaran, beberapa warga lebih memilih untuk membelinya pada makelar air bersih yang berkeliling di Kota Dumai.

Menanggapi permasalahan itu, Wali Kota Dumai Zulkufli AS mengatakan, pengerjaan proyek air bersih sesungguhnya sudah dilakukan sejak 2008 lalu.

Sesuai dengan kontrak pekerjaan yang dilakukan antara Pemko Dumai dengan tiga perusahaan rekanan pengerjaan proyek air minum tersebut, penyelesaian pekerjaan akan berakhir pada Desember 2010, namun sejauh ini proyek senilai lebih Rp100 miliar itu menemukan berbagai hambatan serius.

Wali Kota Dumai katakan, untuk mengerjakan proyek tersebut tentunya harus dilakukan secara berkesinambungan.

Diketahui, perusahaan yang melakukan pengerjaan proyek itu ada tiga yakni Waskita Karya yang mengerjakan instalasi jaringan pipa primer, Adi Karya untuk jaringan pipa sambungan rumah dan Nindya Karya untuk instalasi pengolahan airnya.

Sementara pejabat terkait mengakui, untuk melakukan pekerjaan tersebut ada ketergantungan dengan rekanan yang lain. Hal tersebut membuat kendala. Sebab saat satu perusahaan ini akan melaksanakan pengerjaan harus menunggu perusahaan lainnya selesai lebih dulu. Terlebih persoalan APBD Dumai yang kini dalam kondisi "hancur-hancuran" usai terkena pemangkasan dana bagi hasil.

Sementara kendala lainnya, yang ditemukan, yakni perusahaan belum dapat mengerjakanya dikarenakan ada beberapa hal seperti cuaca musim hujan yang dapat menganggu aktivitas penggalian dan pembangunan cor tempat dudukan Reseve Osmosis (RO).

Selain itu kendala luar biasa yang sebelumnya juga dihadapi adalah kertelambatan pembayaran yang sempat terjadi karena Pemko Dumai mengalami defisit biaya.

Namun itu dulu, kini proyek air bersih Dumai telah masuk dalam program terbarukan yang disinergikan dengan tiga kabupaten lainnya.


Pam Durolis

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman dalam kunjungannya di Dumai mengatakan, proyek air bersih Dumai kini menyatu dalam program Proyek Air Minum Dumai, Rokan Hilir dan Bengkalis atau yang disingkat Pam Durolis. Program ini segera bisa dirasakan masyarakat.

Saat ini rencana pembangunan proyek air bersih di kawasan pesisir tersebut sudah mulai memasuki tahapan lelang, tentunya dalam program yang lebih strategis. 

Gubernur yang akrab disapa Andi Rachman mengatakan itu saat safari Ramadan di Mesjid Nurul Falah, Kelurahan Bukit Timah, Kota Dumai.

Ia katakan, melalui Pam Durolis tersebut, persoalan klasik yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir seperti Dumai, ke depan sudah bisa diatasi. 

"2019 nanti insya Allah proyek air bersih ini sudah mengalir ke Dumai. Nama proyeksinya, Pam Durolis. Proyek pengolahan airnya sudah dalam tahap lelang. Insya Allah dalam waktu dekat akan ada pemenangnya," kata Andi Rachman, Sabtu (10/6/17).

Total nilai proyek Pam Durolis ini berjumlah Rp365 miliar. Namun untuk sementara, nilai anggaran yang ditenderkan sebesar Rp80 miliar. Jumlah ini tentu lebih besar dibanding ketika Dumai mencoba membangun proyek itu sendiri.

Diharapkan ke depan, proyek air bersih ini setelah beroperasi nantinya sudah bisa dialirkan ke rumah-rumah masyarakat untuk mendapatkan air yang lebih layak.

Selain masalah Pam Durolis tersebut, orang nomor satu di Riau ini juga banyak memaparkan tentang program pembangunan di Riau. Termasuk berbagai program strategis nasional yang ada di Riau, seperti jalan tol Pekanbaru-Dumai, rail way (kereta api). 

Pada kesempatan ini, Andi Rachman juga menyerahkan bantuan dana CSR dari Bank Riau-Kepri sebesar Rp50 juta untuk lima mesjid, masing-masing mendapatkan Rp10 juta. Kemudian pembagian Al Quran dari Pemprov Riau sebanyak 100 eksemplar beserta sarung untuk dibagi-bagi lima mesjid.

"Pada kesempatan ini saya juga menyerahkan zakat pribadi Rp15 juta. Tolong sampaikan kepada yang menerimanya," kata Andi mengakhiri. (MC Riau/hrd)

Berita Terkait