Senin, 13 Safar 1443 H | 20 September 2021

SELATPANJANG - Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (KB) Meranti, Raiu, dra Syarifah Zumah, meminta seluruh sekolah mengaktifkan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) untuk mencegah ceks bebas di kalangan remaja.

Kepada pers, Minggu (9/3) dia mengaku prihatin dengan kecenderungan remaja untuk melakukan perbuatan asusila, hal ini terkait adanya kasus perkosaan dibawah umur, dimana korban maupun pelakunya masih duduk dibangku sekolah.

"Data penelitian pada 2005-2006 hampir dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Makassar, sekitar 47,54 persen remaja Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sementara data hasil survei pada tahun 2008 oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan menunjukkan, sebanyak 63 persen remaja SMP sudah melakukan hubungan seks. Sedangkan 21 persen siswa SMA pernah melakukan aborsi,” katanya.

Fakta tersebut, ujarnya, membuktikan bahwa kasus ini banyak terjadi di kalangan pelajar sekolah menengah sampai kalangan mahasiswa. Sehingga hal ini menjadi catatan hitam di dalam dunia pendidikan Indonesia. Lebih gawatnya lagi, seks bebas (free sex) itu kini telah menjadi tren oleh beberapa kelompok pelajar serta merupakan bagian dari budaya buruk yang ada di masyarakat.

Fenomena ini, lanjut Syarifah, disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor penyebab utamanya yaitu minimnya pengetahuan seks yang benar dan terpadu melalui pendidikan formal (sekolah) maupun informal (orang tua). Menurut Syarifah, salah satu solusi mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan program nasional PIK-R.

Masa Remaja merupakan masa sangat penting dalam kehidupan manusia, karena masa tersebut adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju pada persiapan menjadi manusia dewasa, sebagai masa transisi yang sifatnya masih labil tentu saja banyak hal-hal yang berubah pada diri seorang remaja.

"Remaja itu membutuhkan bantuan guna menyelesaikan masalah yang dihadapinya melalui pengambilan keputusan yang tepat sehingga tidak merugikan dirinya maupun masa depanya. Oleh karena itu perhatian terhadap masalah kesehatan remaja merupakan upaya untuk meningkatkan SDM,” ujarnya.

Untuk itu, kata Syarifah, perlu dibentuk suatu perkumpulan remaja yang biasa disebut Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) yang tujuan dibentuknya PIK KRR ini adalah mewujudkan wadah remaja dalam mengatasi permasalahan Remaja, mewujudkan remaja tegar, sehat, bertanggungjawab, serta meningkatkan kepedulian berbagai pihak dalam rangka mempersiapkan generasi penerus bangsa.

Dikatakan Syarifah, banyak hal-hal positif yang bisa didapat oleh remaja terutama siswa sekolah melalui program PIK ini, mereka akan mendapatkan informasi secara jelas tentang perilaku sehat remaja, khususnya yang berhubungan dengan risiko seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS dan dampak dari perbuatan tersebut.

Para pelajar bisa saling bertukar pikiran dan hal-hal seperti itu bukanlah hal yang tabu lagi untuk didiskusikan di PIK tersebut, karena bagaimanapun juga, di zaman teknologi saat ini, remaja dengan mudah mendapatkan informasi dan mengakses berbagai hal-hal yang mereka ingin ketahui. Oleh karena itu ia berharap sekolah-sekolah mengaktifkan program PIK-R.

"Sekolah banyak yang salah mengartikan program ini, kita telah berupaya mensosialisasikan ini ke sekolah-sekolah, beberapa sekolah meresponnya dengan baik, namun ada juga yang tidak meresponnya, sehingga program ini tidak dijalankan," imbuhnya.

Selain itu, Syarifah juga mengharapkan peran orang tua dalam memberikan bekal pendidikan agama kepada remaja. "Mungkin karena kesibukkan orang tua sering mengabaikan anak-anak. Saya sangat berharap orang tua tak mengabaikan anak-anaknya terutama dalam memberikan pendidikan agama. Dan ini adalah cara yang paling efektif, terlebih lagi jika orang tua yang peduli dan memberikan perhatian penuh kepada anaknya," pungkas Syarifah. (MC Riau/san)

Video

KONFERENSI PERS - INFORMASI DAN UPDATE PENANGANAN COVID-19 DI PROVINSI RIAU

Gubernur Corner

Penandatanganan Nota Kesepakatan Tentang Rancangan Awal Kebijakan Umum

Berita Terkait

Satlantas Polres Meranti Tertibkan Pengendara Tak Pakai Masker

Selasa, 07 September 2021 | 23:29:16 WIB

Nakes di Kepulauan Meranti Mulai Vaksinasi Booster

Selasa, 17 Agustus 2021 | 21:16:09 WIB

Polres Meranti Gelar Vaksinasi Dosis Kedua

Sabtu, 14 Agustus 2021 | 11:44:38 WIB

Di Meranti, Langgar Prokes Didenda Hingga Rp500 Ribu

Ahad, 25 April 2021 | 21:36:15 WIB