Senin, 22 Rabiul Awwal 1441 H | 18 November 2019

Suasana dialog Diskominfotik Riau dengan tema 'Siaga Darurat Karhutla Berakhir, bagaimana selanjutnya?,

PEKANBARU -- Saat ini wilayah Provinsi Riau telah memasuki musim penghujan, persoalan kabut asap akibat dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) diharapkan juga akan berakhir. Agar kedepan masalah ini tidak terus atau kembali terulang, peran masyarakat  dan juga perusahaan sangat penting dalam mencegahnya.

Hal itu terungkap dari  Dialog Interaktif bertajuk 'Siaga Karhutla Berakhir, Bagaimana selanjutnya?, yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Riau, di media Riau Televisi, Kamis (31/10/2019) pagi.

Dialog yang menghadirkan Tiga Narasumber yakni Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Riau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Jim Gafur, Kepala BMKG Riau Sukisno dan dari Polda Riau dihadiri oleh AKBP Elvanis dari divisi Humas.

Seperti yang disampaikan Jim Gafur, pihaknya bersama Gubernur Riau dan pihak terkait lainnya telah melakukan rapat koordinasi dan evaluasi terkait status darurat Karhutla Riau tadi malam, Rabu 30 Oktober 2019 dan dipastikan tidak akan diperpanjang lagi, namun demikian bukan berarti tugas atau kontrol terhadap Karhutla ini juga berakhir.

"Status daruratnya saja yang tidak diperpanjang, namun penangan terhadap Karhutla ini tetap akan terus dilakukan, pemerintah daerah tetap akan melakukan berbagai upaya pencegahan, sulitnya sumber air ketika musim kemarau lalu bisa teratasi dengan musim hujan saat ini," kata Gafur.

Namun yang lebih penting menurutnya adalah bagaimana peran aktif masyarakat dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan membakar, itu akan sangat lebih penting, agar peristiwa Karhutla ini tidak terus terjadi dan terus berulang.

"Menumbuhkan kesadaran masyarakat ini kami nilai yang sangat perlu, jika itu tidak ada, maka Karhutla atau kabut asap ini akan terus terjadi dan berulang. Pemerintah akan terus melakukan upaya  Penyedaran kepada masyarakat ini, membantu masyarakat yang ingin membuka lahan, dan kanal disekitar lahan gambut juga akan diperbaiki, agar ketika musim kemarau ada katerasediaan air," ujarnya.

Kepala BMKG Sukisno menjelaskan bahwa pada November, Desember dan Januari 2020, diprediksi Riau akan musim penghujan, dan pada Februari akan terjadi musim kemarau pertama, dan itu diperkirakan berlangsung satu bulan.

"Terkait hal ini, kita terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait dengan Karhutla, setiap titik hotspot yang terpantau oleh satelit, kita sampaikan ke pihak Pemprov, hingga diharapkan segera dilakukan pemedaman, hingga jumlahnya tidak meluas," jelas Kisno.

Sementara Elvanis dari divisi Humas Polda Riau menjelaskan hingga saat ini pihaknya menangani sebanyak 68 tindak pidana dengan menetapkan 72 tersangka, dua diantaranya adalah dari pihak perusahaan.

Diakhir dialog ketiga narasumber sepakat bahwa untuk persoalan Karhutla ini kesadaran masyarakat dan perusahaan-perusahaan perkembunan untuk tidak membakar lahan, sangat diharapkan. Karena dampak dari Karhutla ini tidak hanya dirasakan orang yang membakar, tapi yang merasakan masyarakat luas. (MCR/mad)
 

Berita Terkait