Senin, 22 Rabiul Awwal 1441 H | 18 November 2019

Gubri H Syamsuar memberikan Kuliah UMUM di Universitas Riau, Selasa (5/11/2019).

PEKANBARU -- Gubernur Riau Drs Syamsuar MSi mengatakan kalau pemerintah Provinsi Riau telah melakukan pemetaan daerah rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Riau. Hasilnya, ada 75 kecamatan 188 desa di Riau masuk daerah rawan Karthutla.

Perihal itu disampaikan Gubernur Syamsuar saat menjadi narasumber dalam kegiatan kuliah umum bersama Kepala BNPB RI Letjen Doni Munardo denga tema 'Solusi Permanen Bencana Asap: Penyelesaian akan Masalah Asap di Provinsi Riau, di Gedung Aula Sutan Balia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri), Selasa (5/11/2019).  

“Selain melakukan pemetaan Kecamatan dan desa rawan bencana, Pemprov Riau juga melakukan inventarisasi terhadap perizinan perkebunan dan penguasaan hutan di Riau. Dengan kebijakan satu peta ini, kedepan kita bisa mengetahui berapa izin HGU di Riau, berapa perkebunan tidak punya HGU serta berapa tidak membayar pajak,” ujarnya.

Gubernur meminta masyarakat agar tidak lagi membuka lahan perkebunan dengan cara membakar. Sebab dampak yang ditimbulkan akibat Karlahut berdampak sangat luas. "Yang paling penting itu bagaimana masyarakat kita menyadari akan bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari membuka lahan dengan cara membakar itu, ini kami nilai juga sangat penting, edukasi-edukasi terkait hal itu akan terus kita lakukan ditngah masyarakat," pungkasnya.

Sementara Rektor Unri Prof Dr Ir Aras Mulyadi DEA, menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah menunjukkan kepedulian terhadap bencana asap yang menimpa Provinsi Riau beberapa waktu lalu.

Dengan adanya kejadian Karhutla yang terjadi di tahun 2019 ini cukup mengkhawatirkan mengingat sejumlah desapun bertambah menjadi rawan terjadinya bencana. “Hadirnya narasumber yang kompeten yang memiliki peran penting dalam pengendalian dan penanggulangan bencana asap dalam kegiatan hari ini, diharapkan dengan adanya solusi dan pengendalian yang efektif lagi,dihatapkan bencana asap ini tidak akan terjadi lagi,” harap Rektor.

Rektor menyebut, sebagai kalangan akademisi, Unri juga berperan bagaimana mengajak masyarakat secara persuasif untuk tidak membakar lahan, selain itu di akademisi juga memiliki dosen-dosen peneliti yang akan melakukan penelitian dalam pengendalian lahan dan hutan agar kebakaran ini bisa dihindari.

“Berkenaan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan ini, Unri melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) melakukan serangkaian riset, serta aksi nyata yang dilakukan melalui pelaksanaan program kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan tema pencegahan karhutla berbasis masyarakat, termasuk kegiatan restorasi gambut di seluruh Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) sebagai solusi utama karhutla di Riau,” urai Guru Besar Bidang Perikanan dan Kelautan ini menjelaskan.

Lebih lanjut, Aras menyebut kalau secara rutin dalam upaya mencegah terjadinya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN dilibatkan dalam KKN Tematik di beberapa Kabupaten Kota yang berpotensi dalam bencana kebakaran hutan dan lahannya yang besar.

“Setiap tahun, pelaksanaan Program KKN Unri menggunakan tema penanggulanan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Hal ini kita lakukan sejak tahun 2015 bahkan melalui KKN Kebangsaan seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia,” terang Rektor. (MCR/mad)

Berita Terkait