Sabtu, 18 Rabiul Akhir 1441 H | 14 Desember 2019

Info

PEKANBARU -- Mengusung tema Menjulang Bahasa Indonesia Sebagai Kekuatan Bangsa, Balai Bahasa Provinsi Riau bekerjasama dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak) menggelar seminar nasional yang diikuti oleh lebih dari 150 Mahasiswa, dan 48 guru SMP/SMA yang ada di Riau.  

Sebagai Narasumber dihadirkan Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Republik Indonesia Prof Dr Dadang Sunendar M.Hum, Ketua Majelis kerapatan Adat LAM Riau, Al Azhar, dan Wakil Dekan II FIB Unilak Dr. Evizariza. M.Hum.  Turut hadir Rektor Unilak Dr.Junaidi S.S MHum, dekan FIB Hermansyah SS MA, kepala Balai bahasa Riau, Drs,Songgo A Siruah MPd dan sejumlah dosen di lingkungan Unilak.

Kepala Balai Bahasa Riau diawal seminar mengatakan, bahasa Indonesia adalah simbol negara, dan telah diatur di Undang-Undang. Balai bahasa bergerak lintas kementerian dan lembaga negara, yang dihubungkan oleh bahasa, dan sekarang setiap dokumen resmi harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia akan direncanakan menjadi bahasa internasional di tahun 2045.

Dikatakan, Songgo, kontribusi orang Melayu bagi Indonesia adalah bahasa Melayu yang digunakan sebagai lahirnya bahasa Indonesia, yang tidak dapat diukur dengan material, "jadi kita harus merawat Bahasa Indonesia, karena ini adalah bingkai pemersatu bangsa Indonesia,"sebut Songgo, seperti dalam rilis yang diterima redaksi.

Rektor Unilak Dr Junaidi dalam sambutannya menerangkan bahwa di Unilak saat ini terdapat 19 prodi S1, dan dua diantaranya prodi sastra, yaitu Sastra Daerah,  dan  Sastra Indonesia. "Kami menyambut baik adanya' seminar ini, di Riau, FIB adalah yang mengambil muatan lokal, dan Insyallah kami akan mereposisi sastra Melayu akan menjadi bahasa Melayu sehingga akan menjadi muatan lokal di Riau," jelasnya.

"Saya berharap kegiatan ini betul-betul membangkitkan perhatian kita untuk memperhatikan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Bagi kita bahasa Indonesia dan bahasa Melayu sangat erat, kontribusi besar orang Melayu bagi Indonesia adalah bahasa Melayu. FIB akan bermitra  dengan  Balai Bahasa untuk malaksanakan uji kompetensi bahasa Indonesia ini," Sebut Rektor Unilak.

Sementara Dadang Sunendar selaku narasumber dalam kegiatan itu  mengatakan, penjagaan dan perawatan bahasa Melayu hari harus terus dilakukan, keberadaan bahasa Melayu di Riau tertanam dan terjaga dan bahkan dipelajari dalam muatan lokal pendidikan dan  jangan lupa sastra nya juga perlu dijaga, dan ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain.

"Jika satu bahasa kita punah maka sastra juga akan hilang, kearifan lokal, dan muatan lokal bisa hilang juga, ini tugas badan perubukuan dan bahasa untuk terus menjaga". sebut Guru Besar UPI Bandung ini.

Dijelaskan Dadang, di Indonesia ada 718 bahasa daerah, 408 ada di Papua dan Papua barat. Indonesia adalah negara no dua terbanyak memiliki bahasa, yang nomor satu adalah Papua Nugini, jadi bisa dikatakan pulau Papua adalah surga bagi para peneliti bahasa. (MCR/mad)

Berita Terkait