Sabtu, 18 Rabiul Akhir 1441 H | 14 Desember 2019

Info

PEKANBARU - Cagar budaya memiliki nilai sejarah. Riau termasuk daerah yang kaya akan cagar budaya. Jika dikemas dengan baik, bisa dijual mendatangkan sumber ekonomi baru bagi masyarakat. 

Sayangnya, cagar budaya yang memiliki arti itu justru terkesan diabaikan. Cagar budaya lokomotif yang ada di Jalan Kaharudin Nasution Pekanbaru misalnya. Cagar budaya seharusnya mampu menjadi magnet orang berkunjung, menceritakan bagaimana sejarahnya bisa ada di Kota Pekanbaru, justru sebaliknya hanya seperti besi tua saja. 

"Riau sendiri kaya akan budaya dan cagar budaya. Di Pekanbaru sendiri, punya cagar budaya yang memiliki nilai sejarah seperti lokomotif. Tapi kenyataanya, lokomotif yang terletak di Jalan Kaharuddin Nasution seperti besi tua saja," sindir Gubernur Riau H Syamsuar, usai membuka acara Ruang Kita Festival 2019, Purna MTQ Pekanbaru, Senin (22/12/19).

Tidak adanya kemasan sesuatu yang inovatif dan kreatif, membuat lokomotif tak bermakna apa-apa. Minimnya keingintahuan orang soal lokomotif yang sudah ada pada masa zaman penjajahan itu, diharapkan dapat dibenahi. 

Lokomotif itu kedepan, harus mampu menjadi ikon sejarah kota bertuah yang belakangan menjelma menjadi kota madani. Jika cagar budaya bersejarah ini mampu menjadi ikon, maka diyakini akan memiliki nilai tambah. 

Tidak hanya di Pekanbaru, daerah lainnya di Riau juga memiliki jejak lokomotif beserta bentangan relnya. Sayangnya, karena ketidakperdulian oleh pemerintah terkait, lagi-lagi seakan sejarah tak berjejak. 

"Di Kuansing sendiri, juga dulu ada real kereta api, tapi sekarang entah dimana relnya, yang harusnya bisa menjadi destinasi sejarah," ungkap Gubri.

Selain itu, orang nomor satu di Riau ini juga mengatakan destinasi bersejarah lainnya yang harusnya bisa diangkat seperti benteng tujuh lapis di Rokan Hulu. Potensi destinasi yang  bisa dikembangkan dalam usaha meningkatkan pariwisata berbasis budaya, harus mendapatkan perhatian disamping meningkatkan berbagai potensi yang sudah ada. 

Kemudian penggalakan kebudayaan tradisional juga harus ditumbuh kembangkan. Sebagian orang mungkin hanya kegiatan biasa. Tapi justru hal seperti itu yang ingin dilihat orang.

"Orang ingin melihat keaslian. Setiap daerah tentu memiliki nilai budaya masing-masing. 

Dan setiap daerah di Riau, mulai Tembilahan, Rohil dan daerah lainya memiliki cagar dan budaya. Cuma sayangnya tak dikemas," ujar mantan Bupati Siak tersebut.

Lebih lanjut, orang nomor satu di Riau ini mendorong setiap kabupaten kota membuat tim cagar budaya. Hal itu dianggap penting untuk menginventatisir cagar-cagar budaya yang nantinya bisa dipajangkan untuk Riau. 

"Sebenarnya pembentukan cagar budaya ini gampang kerjanya, dengan merekrut pakar-pakar budaya di daerah, kalau tidak ada, bisa kita ambil dari sini (provinsi), " ujar Syamsuar.(mcr/mtr)

Berita Terkait