Rabu, 18 Zulqaidah 1441 H | 08 Juli 2020

Info

Pemapaarn materi olah salah seorang narasumber

PEKANBARU -- Ekosistem hutan rawa gambut merupakan salah satu Sumber Daya Alam (SDA) yang mempunyai fungsi sebagai hidrologis dan fungsi lingkungan lainnya yang penting bagi kehidupan seluruh mahkluk hidup, di antaranya di Provinsi Riau yang memiliki lahan gambut terluas di Sumatera.

Hasil kajian Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH-RI), Riau memiliki Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) mencapai ± 5,7 hektar atau sekitar 64% wilayah Riau. KHG yang paling Luas adalah KHG Sungai Rokan - Sungai Siak Kecil dengan luas 389,493.11 ha yang terdiri dari fungsi lindung seluas 448,571.01 ha dan fungsi budidaya 838,064.12 ha.

"Sedangkan luas KHG yang paling kecil adalah KHG Pulau Labu seluas 594.06 ha yang terdiri dari fungsi lindung seluas 390.60 ha dan fungsi budidaya seluas 203.46 ha," kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Riau (Unri), Prof Dr Almasdi Syahza SE MP  Rabu (4/12/2019), di Kampus Bina Widya Unri.

Almasdi menyampaikan, kalau telaah tersebut telah di lakukan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek Riset Gambut (PUI-RG) yang dilaksanakan pada 13 November 2019 lalu di Aula Gedung LPPM Kampus Bina Widya Unri.

Almasdi menambahkan, lahan gambut  merupakan  lahan  marginal  karena  secara  inheren tanahnya  bereaksi  masam,   miskin  hara  dan  mineral  yang  dibutuhkan  tanaman. “Pemanfaatan  lahan  harus  diawali  dengan  pembenah  tanah  dan  penambahan  input produksi agar tanaman tumbuh optimal. Selain itu, potensi pemanfaatan lahan telah menyebabkan kerusakan gambut yang pada akhirnya menyebabkan lahan gambut semakin mudah terbakar,” ujarnya.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebagai salah satu bencana yang setiap tahun terjadi di Provinsi Riau, khususnya pada musim kemarau dalam 20 Tahun terakhir. Kerawanan hutan dan lahan di Provinsi Riau terhadap bencana kebakaran terutama sangat terkait dengan kegiatan pembukaan lahan dalam usaha pertanian rakyat, usaha perkebunan skala sedang dan besar  serta kegiatan dibidang kehutanan lainnya seperti kegiatan perambahan hutan, okupasi lahan dan pencurian kayu.

“Bencana Karhutla menimbulkan banyak kerugian yang menimbulkan kerusakan dan kerugian nasional. Yakni pertanian, lingkungan, kehutanan, manufaktur dan pertambangan, perdagangan, transportasi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, hingga berdampak pada pengalokasian dana untuk upaya pemadaman kebakaran,” ujar Almasdi.

Pada kegiatan FGD tersebut, ujar Almasdi, juga diuraikan berbagai upaya pengelolaan lahan gambut dan Karhutla yang telah dilakukan. “Berbagai riset juga telah dilakukan, bahkan secara nasional telah dibentuk Badan Restorasi Gambut yang secara kelembagaan fokus menangani upaya retorasi lahan gambut. Namun hingga saat ini Karhutla masih terus terjadi. Kompleksitas permasalahan tersebut dipandang perlu dikelola dengan melaksanakan riset kolaborasi melalui pembentukan kelembagaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) dibidang Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Kebencanaan yang berkolaborasi dengan multi pihak untuk menemukan akar masalah dan riset terapan yang berguna  untuk masyarakat,” jelasnya.

Melalui kegiatan FGD itulah menurutnya penguatan kapasitas kelembagaan Pusat Unggulan Iptek Riset Gambut (PUI-RG), LPPM Unri mendukung adanya program pembentukan Pusat Unggulan Iptek di Universitas Riau yang ditetapkan melalui SK Rektor UNRI.

Pembentukan PUI ini juga mengacu pada kebijakan Centre of Excelence (CoE) Unri Wetland Ecosystem and Disaster Management (Pengelolaan Lahan Basah dan Management Kebencanaan).

Tujuan kegiatan FGD terkait Penguatan Kelembagaan PUI-Riset Gambut LPPM Unri, yaitu Memberikan informasi dan sosialisasi pembentukan dan pengembangan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi serta Memberoleh saran masukan dan tindak lanjut upaya percepatan pengembangan dan penguatan kelembagaan Pusat Unggulan Iptek Riset Gambut Unri.

“PUI-RG ini juga telah diajukan ke ristekdikti pada 16 Agustus 2019 lalu. Melalui Kegiatan FGD yang dilakukan ini, merupakan perwujudan keseriusan LPPM Unri dalam rangka penguatan kelembagaan PUI-Riset Gambut Unri, sehingga harapannya dapat menjadi Pusat Unggulan Iptek yang mandiri,” tutupnya. (Mcr/mad)

 

Video

Update Covid-19 ( 2 Juli 2020 ) di Provinsi Riau

Updet Covid-19 ( 1 Juli 2020 ) di Provinsi Riau

Update Covid-19 (29 Juni 2020) di Provinsi Riau

Berita Terkait