Rabu, 26 Jumadil Akhir 1441 H | 19 Februari 2020

Info

PEKANBARU - Perlu percepatan untuk mengatasi stunting yang terjadi di Provinsi Riau. Dari catatan Dinas Kesehatan Provinsi Riau dari Januari hingga Desember 2019, penderita stunting atau gizi buruk pada balita mencapai 16.275 balita.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Yan Prana Jaya mengatakan, meskipun angka balita penderita stunting di Riau bersifat fluktuatif (turun-naik, red), namun harus cepat dilakukan upaya-upaya dalam pencegahannya.

"Stunting di Riau harus cepat diatasi. Dimana ada kerjasama lintas sektoral dari instansi terkait, agar upaya pencegahan tepat sasaran," kata Yan Prana, Selasa (21/1/2020).

Dikatakan Yan Prana, menekan angka stunting yang terjadi di Riau dalam mewujudkan sumber daya manusia yang unggul, perlu kerja sama intensif lintas sektor dan multipihak.

"Saat ini sudah ada target nasional untuk penurunan stunting di daerah," ungkap Yan Prana.

Menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, keberhasilan penurunan stunting diperlukan tiga hal, yang pertama coverage. Dimana target harus jelas, tidak hanya persentase tetapi juga jumlah nominalnya.

Selanjutnya yang kedua, kualitas. Yang mana intervensi harus sesuai standar yang ditetapkan dan diterima seluruh target sasaran. Kemudian yang ketiga, compliance. Yang dikonsumsi target sasaran sesuai ketentuan. Comtohnya, tablet penambah darah yang dikonsumsi ibu hamil selama 90 hari harus habis.

Pemerintah Indonesia menetapkan Perpres Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang difokuskan pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Gerakan ini sejalan dengan prioritas percepatan penurunan stunting yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 dan 2020-2024.

Untuk diketahui, berikut ini urutan kabupaten dan kota di Provinsi Riau dari yang paling banyak balita penderita stunting, yakni Kabupaten Kampar sebanyak 3.128 balita, Indragiri Hilir sebanyak 2.021 balita, Bengkalis sebanyak 1.813 balita,Kepulauan Meranti sebanyak 1.745 balita, Pelalawan sebanyak 1.742 balita, Rokan Hilir sebanyak 1.474 balita, Kota Pekanbaru sebanyak 1.248 balita, Rokan Hulu sebanyak 878 balita, Indragiri Hulu sebanyak 831 balita, Kuantan Singingi sebanyak 650 balita, Siak sebanyak 455 balita, dan Kota Dumai sebanyak 290 balita. (MCR/eL)

Berita Terkait