Rabu, 5 Rabiul Awwal 1442 H | 21 Oktober 2020

Info

A generic square placeholder image with rounded corners in a figure.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Achmad sosialisasikan IV Pilar Kebangsaan dihadapan mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian.

PASIR PENGARAIAN - Anggota Komisi VIII DPR RI, Achmad  mensosialisasikan IV Pilar Kebangsaan dihadapan sekitar 300 mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP), Rabu (12/2). Acara yang dipandu Zulkifli Mansyur, Dekan Fakultas Hukim UPP itu, turut dihadiri Wakil Rektor I UPP Rivi Antoni, dan Wakil Rektor II UPP Khairul Fahmi.

Dikatakan Achmad, Pancasila adalah dasar negara yang sudah dikenal sejak di bangku SD, SMP, SMA. Namun, pendalaman, pemahamannya, penyajian dan pengamalannya masih perlu diperbuat. Diakui identitas itu perlu karena identitas itu merupakan salah satu bentuk Bhineka Tunggal Ika.

Ia mencontohnya orang Melayu yang selalu mengawali kata dengan berpantun, termasuk Identitas, sepertinya dirinya jika rapat di MPR RI akan memulai kata dengan pantun, sehingga di komisi delapan itu sudah menjadi jati dirinya dalam memulai kata dengan pantun.

"Bahkan jika ada yang ingin berpantun, ada yang minta izin dulu dengan kita. Itu contoh dari identitas yang sekarang sudah terbentuk," katanya.

Terkait mengapa dianggap perlu disosilisasikan IV Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika, karena keempatnya sebagai dasar berdiri kokohnya bangsa.

"Empat pilar tersebut adalah penyangga berdirinya negara kita ini," bebernya.

Pancasila merupakan suatu dasar dan ideologi bangsa Indonesia. Sementara UUD 1945 merupakan Regulasi atau aturan bagi bangsa Indonesia, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara.

"Terakhir adalah Bhineka Tunggal Ika yang merupakan semboyan negara kita, yang menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang berbeda namun tetap bisa bertoleransi satu sama lain," bebernya.

Disebutkan juga, tantangan kebangsaan secara internal yang dihadapi saat ini adalah, masih lemahnya pengkhayatan dan pengamatan agama. Kemudian pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatisme kedaerahan.

"Kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebinekaan dan kemajemukan, juga termasuk tantangan kita semua. Begitu juga kurangnya penegakan hukum," tambah Achmad.

Sementara tantangan kebangsaan secara eksternal yang dihadapi adalah perkembangan dunia ekonomi, politik, sosial, dan budaya dan masih lainnya.

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, kekayaan berupa flora dan fauna, 700 bahasa daerah, beragam adat dan istiadat, beragam budaya, 6 agama, dan 1128 suku bangsa.

"Kekayaan ini bisa menjadi 2 mata pisau yang bisa menguntungkan dan membahayakan bagi negara kita. Untuk itu IV Pilar Kebangsaanlah yang menjadi penopangnya mempertahankan Indonesia dari negara luar." ujarnya. (MCR/DI)

Video

Himbauan Netralitas Pilkada 2020

Penganugerahan Penghargaan K3 Tahun 2020

Upacara Peringatan HUT ke 75 TNI Secara Virtual

Berita Terkait

Gubri Serahkan Bantuan Obatan Covid-19 ke Pemkab Rohul

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 14:19:14 WIB

Wagubri Kunjungi Situs Cagar Budaya Istana Rokan

Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:30:49 WIB

Satu Nakes di Rohul Dinyatakan Positif Covid-19

Ahad, 19 Juli 2020 | 17:24:37 WIB

Sekdaprov Riau Minta GTP Covid-19 Rohul Tetap Waspada

Jumat, 10 Juli 2020 | 19:42:51 WIB

Rohul Harus Capai Target 50 Uji Swab Perhari

Jumat, 10 Juli 2020 | 13:18:53 WIB

Satu Nakes di Rohul Telah Dinyatakan Sembuh

Ahad, 05 Juli 2020 | 19:09:14 WIB

Mobil Truk Bertonase Overload Harus Ditindak Tegas

Sabtu, 20 Juni 2020 | 16:49:50 WIB