Sabtu, 10 Zulqaidah 1442 H | 19 Juni 2021

PEKANBARU - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir mengharapkan bahwa bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Pekanbaru dapat mengsinkronisasikan kegiatannya di bidang kesehatan, terutama pada pemberantasan atau penurunan angka stunting.

Mimi mengatakan, pencegahan stunting bersama BBPOM bisa dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan obat-obatan dan makanan yang memenuhi syarat dan standar yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.

“Bagaimana nanti stunting bisa turun, jika yang dimakan mengandung pengawet yang tidak sesuai standar. Kemudian, kita juga bisa melakukan pengawasan garam yang beredar di pasar yang tidak beryodium,” katanya, Jumat (21/2/2020).

Mimi mengatakan, bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau baru bisa menetapkan stunting di saat data pengukuran anak-anak balita mencapai 80 persen dari balita yang ada di Riau. Hingga saat ini, Pemprov baru mengukur anak-anak balita sebanyak 150 ribu balita atau 25 persen.

“Jadi belum bisa kita tetapkan angka stunting di Riau. Namun, dari 25 persen tersebut ternyata 10,9 persen balita mengalami stunting,” ungkapnya.

Mimi berharap angka tersebut tidak akan bertambah lagi dengan adanya kontribusi dari BBPOM. Bersama BBPOM nantinya bisa menurunkan angka stunting tersebut di tahun 2024 menjadi 14 persen dari keseluruhan pengukuran anak-anak balita.

“Makanya perlu adanya komunikasi, informasi dan edukasi dalam lintas sektor, lintas program, apalagi kepada masyarakat dan itu dengan melaksanakan pemberdayaan masyarakat,” tutupnya (MCR/AQB)

Video

Pemerintah Provinsi Riau Gelar Rapat Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan APBD Riau Tahun 2021

Gerakan Penanggulangan Pandemi Covid 19 Berbasis Fatwa MUI

Gubernur Riau Terima Bantuan Untuk PON XX Papua 2021

Berita Terkait