Senin, 5 Jumadil Akhir 1442 H | 18 Januari 2021
A generic square placeholder image with rounded corners in a figure.

PEKANBARU - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Riau, khususnya sejumlah ahli yang memiliki kompetensi di bidangnya turut ikut dalam melakukan penelitian terhadap perkembangan virus SARS-CoV-2 dari sejumlah kasus penularan di wilayah setempat. 

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Riau, dr. Indra Yovi, Sp.P mengatakan bahwa nantinya hasil penelitian tersebut akan dirilis secara nasional maupun internasional untuk keperluan penanganan Covid-19.

"Kita di Provinsi Riau juga tidak ketinggalan. Kita ikut meneliti beberapa kasus dan beberapa hal yang terdampak dengan Covid-19 ini baik dari laboratorium, Rontgen dan sebagainya. Mungkin dalam beberapa bulan kedepan akan ada hasil penelitian yang kita rilis baik secara nasional dan internasional," kata dr. Yovi, Senin (23/11/2020) di Pekanbaru.

Dikatakan Dr. Yovi, virus pada umumnya dapat bermutasi dengan cepat, termasuk virus SARS-CoV-II yang menyebabkan Covid-19. Dari beberapa kasus yang terjadi di Riau, terang dr. Yovi, pihaknya mendapati ada pasien Covid-19 yang hasil swabnya masih positif walaupun sudah dinyatakan sembuh.

"Yang jadi permasalahan adalah ada PCR yang menunjukkan hasil konsisten. Artinya ada pasien yang hasilnya positif terus. Sesudah diobati, gejalanya hilang kemudian dinyatakan sembuh. Tapi swab-nya masih positif," terang Yovi.

Menjawab itu, dia menjelaskan, seorang pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh memang tidak didasarkan terhadap hasil swab tes. Melainkan dari hilangnya gejala yang dialami pasien setelah dilakukan penanganan.

"Sembuh itu gejalanya hilang, bukan berarti swab-nya negatif. Karena swab itu merupakan bagian pemeriksaan penunjang, untuk evaluasi. Tapi diagnosis utama pasien itu sembuh, dinyatakan dari kondisinya. Kondisi klinis, kemudian kondisi radiologis," tuturnya.

Pada beberapa kasus ada pasien yang sudah 6 minggu, tapi masih positif. Terkait hal tersebut ia mengungkapkan bahwa pada beberapa kasus, PCR itu tidak bisa membedakan apakah virusnya sudah mati atau masih hidup. Kemudian ada re-infeksi. Dokter spesialis paru itu juga mengakui bahwa sejauh ini belum ada obat yang spesifik langsung membunuh Covid-19. Karenanya, uji klinis obat baru selalu dikembangkan.

"Yang paling penting adalah perubahan perilaku dan sosial kita untuk beradaptasi dengan kondisi Pandemi ini. Kita harus selalu berfikir, semua mahluk hidup yang survive adalah yang mampu beradaptasi, akan baik-baik saja. Jadi selama kita beradaptasi dengan protokol kesehatan yang sudah digariskan, Insyaallah kita akan baik-baik saja," demikian dr. Yovi. (MCR/ger)

Video

Penyuntikan Vaksinasi Covid-19 Di Provinsi Riau

Wakil Gubernur Riau Pimpin Rakor Bahas Rencana Vaksin Covid-19 dan Pengetatan Prokes

Wakil Gubernur Riau Hadiri Rapat Penanganan Covid-19 dan Rencana Pelaksanaan Vaksinasi

Berita Terkait

Pemprov Riau Anggarkan Rp 25 Miliar Untuk Bantuan UMKM

Senin, 18 Januari 2021 | 16:22:49 WIB

Ini Dia Juara Gelanggang Pantun se Riau

Senin, 18 Januari 2021 | 14:00:00 WIB

Pemprov Tunggu Petunjuk Mendagri Usulkan Pj Sekda

Senin, 18 Januari 2021 | 13:45:10 WIB

Begini Cara Lapor Keluhan dan Layanan Listrik Tanpa Pulsa

Senin, 18 Januari 2021 | 12:59:32 WIB

Ikan Cupang Hias Api-Api Aset Berharga Riau

Senin, 18 Januari 2021 | 12:39:49 WIB

Ikan Cupang Jadi Bisnis Baru Dimasa Pandemi Corona

Senin, 18 Januari 2021 | 12:25:51 WIB

208.679 Sampel Swab Telah Diperiksa

Senin, 18 Januari 2021 | 12:05:10 WIB

Kasus Terkonfirmasi Covid-19 Hari Ini Turun

Sabtu, 16 Januari 2021 | 21:48:59 WIB

Pasien Sembuh Bertambah 166, Kasus Baru 96 Orang

Sabtu, 16 Januari 2021 | 19:22:33 WIB