Jumat, 9 Jumadil Akhir 1442 H | 22 Januari 2021
A generic square placeholder image with rounded corners in a figure.

PEKANBARU - Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr H Mohammad Subuh menyebutkan, penggunaan Vaksin, 3M dan Penerapan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah jurus menyelesaikan pandemi Covid-19. 

Hal tersebut diungkapkannya ketika hadir dalam Dialog Produktif bertema Pencegahan dan Pengobatan yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (1/12).

Dikatakanya jika pandemi Covid-19 adalah merupakan sebuah peristiwa global public health yang harus  diantisipasi oleh sebuah negara hingga ke tatanan individu. Karena permasalahan ini tidak hanya pada kesehatan tapi membawa dampak multi dimensi bagi masyarakat. Yaitu pada ekonomi, sosial dan keamanan lainya.

"Masyarakat perlu menyadari bahwa kesehatan adalah aset terpenting dan merupakan investasi masa depan. Sehingga upaya-upaya pencegahan menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan program pemerintah," katanya.

Sedangkan jurus antisipasi maupun penyelesaian Covid-19 ini, sesuai langkah yang sudah diambil oleh pemerintah saat ini. Yaitu melalui pengunaan Vaksin, penerapan 3M yang terus di galakan pemerintah dan penerapan hidup bersih dan sehat oleh masyarakat.

"Pada saat ini pemulihan kesehatan dan ekonomi bisa dilakukan dengan menjaga budaya 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), karena tanpa upaya seperti ini maka pemulihan ekonomi Indonesia sangat sulit," jelasnya.

Dari kacamata ekonomi tambahnya, pandemi Covid-19 harus dikendalikan, karena sumber daya di bidang kesehatan maupun anggaran pemerintah juga terbatas. Oleh karena itu upaya menyehatkan masyarakat pun harus diprioritaskan.

“Saya kira pemerintah kita sudah all out, dari sektor kesehatan dananya begitu besar, stimulus perekonomian juga dananya besar. Tujuannya satu, ingin menyehatkan individu, karena kalau individu sehat, akan membuat produktivitas meningkat, sehingga pendapatan individu meningkat, dan berdampak pendapatan negara juga ikut meningkat. Jadi dengan melindungi kesehatan kita juga melindungi negara," ujarnya.

Disampaikannya, pada ilmu ekonomi kesehatan, dikenal istilah externality, dan vaksin termasuk dalam externality positif. Nilai externality pada vaksin ini sangat besar sekali, karena saat kita menerima vaksin, tidak hanya melindungi diri sendiri tapi juga orang lain. Analoginya seperti faktor externality yang ada pada lampu jalan, ketika terpasang pencahayaan di jalan, kejahatan menurun dan kecelakaan jadi terhindarkan, itu contoh externality di luar bidang kesehatan.

"Dalam bidang Kesehatan faktor externality positif adalah upaya-upaya pencegahan yang kita lakukan, dan yang salah satunya dalam bidang kesehatan disebut perlindungan spesifik adalah imunisasi," tegasnya.

Masyarakat juga harus tau, jika terkait vaksin selama ini 1620 relawan yang melakukan uji klinik vaksin Covid-19 fase III di Bandung tidak menemui kendala yang berarti, artinya baik-baik saja. Kemudian pemerintah juga akan mendatangkan vaksin dari luar negeri yang sudah selesai melakukan uji klinik fase III.

"Jadi masyarakat tidak perlu ragu, saat vaksin datang, pasti sudah dijamin proses memastikan keamanan dan efektivitasnya”, tutup dr Subuh.(MCR/AZ)

Video

Penyuntikan Vaksinasi Covid-19 Di Provinsi Riau

Wakil Gubernur Riau Pimpin Rakor Bahas Rencana Vaksin Covid-19 dan Pengetatan Prokes

Wakil Gubernur Riau Hadiri Rapat Penanganan Covid-19 dan Rencana Pelaksanaan Vaksinasi

Berita Terkait

Tujuan Program Vaksinasi Tercapainya Herd Immunity

Jumat, 15 Januari 2021 | 19:20:55 WIB

Satgas Kedepankan Edukasi Masyarakat Manfaat Vaksinasi

Jumat, 15 Januari 2021 | 10:11:27 WIB

Presiden RI Dorong Pembangunan Pertanian Skala Luas

Senin, 11 Januari 2021 | 19:12:54 WIB