Ahad, 12 Safar 1443 H | 19 September 2021
Berpeluh Keringat, KTH Pelaksana Rehabilitasi Mangrove BRGM di Riau Tetap Semangat Membuat Ajir

PEKANBARU - "Potongnya ditulang bambu supaya tidak pecah,"” ujar anggota Kelompok Tani Hutan Suka Maju Sinaboi dengan logat Melayunya kepada anggota lain sembari memotong bambu di Jumat pagi itu. 

Sontak, perhatian 15 anggota KTH lainnya terfokus pada rekan mereka yang memberikan instruksi tersebut. Layaknya memiliki telepati, mereka melakukan pembagian tugas, diantaranya ada yang mengukur, memotong, membelah dan mengecet bambu yang digunakan untuk ajir bibit mangrove nantinya. 

Seiring naiknya sinar matahari, buliran peluh pun menghiasi raut muka mereka. Tapi mereka tetap bekerja dengan seksama, terkadang juga terdengar suara anggota bercanda ria.  

“Prakk! Suara bambu pecah. 

Kegiatan terhenti, kemudian suara gelak tawa menggelegar. Momen ini juga dimanfaatkan anggota untuk beristirahat sejenak, menyeka keringat mereka dengan baju yang juga sudah basah kuyup. Setelahnya, pekerjaan pun dilanjutkan. 

Semangat kerja dan nilai kebersamaan inilah yang akan menjadi kunci keberhasilan rehabilitasi mangrove di Riau tahun 2021  ini.  Riau merupakan provinsi target rehabiltasi mangrove BRGM, sebagaimana tertuang dalam Perpres No. 120 Tahun 2020. 

Kegiatan rehabilitasi mangrove BRGM di Riau, akan menggunakan pendekatan padat karya dengan menawarkan 4 pola tanam, yaitu tanam murni pada areal rusak total, silvofishery, pengkayaan dan rumpun berjarak. Pola tanam yang digunakan akan disesuaikan dengan kondisi mangrove di lapangan. 

Target rehabilitasi mangrove tahun ini di Riau adalah 7.865 hektare. Saat ini telah dibangun rancangan teknis pelaksanaan mangrove yang disusun BRGM bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Indragiri Rokan.

Rantek ini memuat luasan pelaksanaan penanaman mangrove seluas 5.033 ha yang akan dilaksanakan oleh 133 kelompok pelaksana. Pelaksanaan rehabilitasi mangrove akan dilakukan masyarakat dengan pola transfer langsung kepada kelompok terpilih. 

Sampai Juli ini, sudah ada 99 kelompok yang telah berhasil melakukan pencairan dana termin 1 (satu). Dana ini dialokasikan untuk pengadaan barang yang dibutuhkan agar penanaman bibit mangrove berjalan lancar, seperti untuk pembelian bibit dan bahan pembuatan ajir.

Meskipun di Riau belum ada penanaman mangrove, tapi masyarakat, seperti yang dilakukan KTH Suka Maju Sinaboi, Kab. Rokan Hilir telah bergotong royong untuk membangun persemaian, membeli bibit dan ajir yang akan digunakan sebagai penyangga bibit mangrove agar tetap kokoh meskipun terkena gempuran ombak laut. 

Terjangan ombak laut yang langsung ke bibir pantai, selain akses ke lokasi penanaman mangrove yang sangat minim, juga menjadi tantangan tersendiri dari program penanaman bibit mangrove tahun ini. 

Alhasil, suksesnya pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Riau dipandang perlu kolaborasi dan dukungan dari Pemerintah Daerah dan Desa serta Unit Pelaksana Teknis, LSM dan tentunya masyarakat yang tinggal di areal mangrove.(MC Riau)

(Mediacenter Riau/asn)

Video

KONFERENSI PERS - INFORMASI DAN UPDATE PENANGANAN COVID-19 DI PROVINSI RIAU

Gubernur Corner

Penandatanganan Nota Kesepakatan Tentang Rancangan Awal Kebijakan Umum

Berita Terkait

Pekanbaru dan Dumai Terima Penghargaan TPID Award 2021

Kamis, 16 September 2021 | 14:41:57 WIB