Selasa, 17 Rajab 1444 H | 07 Februari 2023
Webinar Diskusi Hasil Survey Dewan Pers, memilih tema "Persepsi Publik Terhadap Pemberitaan COVID-19 di Media", Jumat (30/7/2021).

PEKANBARU - Pandemi COVID-19 menyebabkan lonjakan produksi dan konsumsi informasi melalui berbagai platform. Sebuah pesan bisa dibentuk sedemikian rupa oleh pembuatnya. Begitu juga dengan penerima yang memiliki pandangan masing-masing. 

Demikian disampaikan, Albertus Prestianta Manager UMN Research and Consulting di Universitas Multimedia Nusantara, ketika menjadi narasumber pada webinar Diskusi Hasil Survey Dewan Pers, memilih tema "Persepsi Publik Terhadap Pemberitaan  COVID-19 di Media", Jumat (30/7/2021).

Dosen yang tekun dalam bidang penelitian, jurnalisme digital dan implikasinya pada masyarakat itu, menyebutkan, dalam situasi pandemi, Media membuat berita seputar COVID-19 dan publik mengkonsumsinya, begitu juga sebaliknya.

Albertus bersama Dewan Pers melakukan penelitian guna mengetahui seperti apa penilaian dan pendapat publik terhadap berita media, sampai sejauh mana persepsi publik terhadap berita seputar COVID-19.

"Dengan mengetahui penilaian dan persepsi publik terhadap berita COVID-19 di media maka media dan seluruh pihak dapat mengatur dan menyusun strategi komunikasi terbaik," Albertus memaparkan. 

Dijelaskannya, dalam hal mengkonsumsi informasi tentu akan ada beragam persepsi dan pendapat. Untuk itu, mengetahui persepsi publik menjadi perlu. Sebab bila pesan salah dipersepsikan maka komunikasi menjadi tidak efektif. 

"Berdasarkan temuan data primer dan dukungan informasi sekunder, penelitian mengangkat sejumlah poin pembahasan," Albertus berujar. 

Berikut beberapa yang dipaparkan Albertus, adalah: 

Poin Penilaian Publik Terhadap Berita Media:

• Publik menilai Media massa telah menjalankan peran pers dengan baik dalam diseminasi informasi terkait pandemi sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 (fungsi informasi, pendidikan dan kontrol sosial).

• Pemberitaan COVID-19 yang dilakukan media sudah memadai. Informasi vaksinasi menjadi kebutuhan.

• Berdasarkan klasterisasi jawaban, Media nasional menjadi rujukan utama publik terkait COVID-19. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap pers masih tinggi. 

• Harapan publik, khususnya di daerah, agar data terkait COVID-19 akurat, transparan dan bisa diakses.

Sinyal Perubahan Kebiasaan:

• Mayoritas responden mengalami keletihan emosional akibat terpaan berita COVID-19. Sehingga publik membatasi diri dan lebih selektif dalam mengakses berita secara kuantitas maupun durasi.

• Karena akses pertama ke informasi melalui platform medsos, media perlu hadir secara intensif dan melawan mis- dan dis-informasi di media sosial.

• Informasi seputar COVID-19 berbasis daerah/lokal area menjadi kebutuhan.

• Fokus pada kualitas laporan dengan menginformasikan praktik terbaik di daerah, dan implementasi jurnalisme positif jurnalisme solusi.

Turut hadir dalam webinar itu, Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh, Anggota Dewan Pers, Ahmad Djauhar, Kabid Komukasi Publik Satgas COVID-19, Hery Trianto, Juru Bicara Gubernur Riau, Raja Hendra Saputra, dan dimoderatori oleh Asep Setiawan.

Dewan Pers bekerjasama dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan survei “Persepsi Publik Terhadap Pemberitaan tentang Pandemi COVID-19”. Survei yang dilakukan selama periode 6 Mei - 29 Mei 2021 ini bertujuan untuk mengetahui persepsi publik terhadap pemberitaan COVID-19 di Indonesia dan bagaimana mereka merespons informasi yang mereka dapatkan.

Persepsi publik tentang pemberitaan COVID-19 dapat memberi petunjuk mengenai kinerja pers di benak publik. Apakah publik menilai pers Indonesia masih mampu menjalankan fungsi-fungsi idealnya di tengah krisis kesehatan yang melanda dunia? dan Bagaimana publik mengevaluasi kinerja pers dalam memberitakan COVID-19? 

Survei ini juga bertujuan mencari tahu media yang menjadi rujukan utama responden dalam upaya mereka mendapatkan informasi mengenai COVID-19, untuk mengukur platform yang menjadi ‘top of mind’. 

Metode survei yang digunakan adalah metode tidak acak (non-probability sampling) dari populasi responden Jakpat Mobile Responden yang tersebar di Indonesia. 

Survei menjangkau 1.119 responden (margin of error < 3%) berusia 15 tahun ke atas, yang terdiri dari 624 responden laki-laki dan 495 responden perempuan, dengan distribusi 20% responden dari Sumatera, 53% dari Jawa, 7% dari Kalimantan, 12% dari Sulawesi, 5% dari Bali dan Nusa Tenggara, 2% dari Maluku, serta 1% dari Papua.

(Mediacenter Riau/yan)

Info Lainnya

Info Riau Sepekan

Info riau sepekan (20/9/2022)

Berita & Info Lainnya

Gubernur Corner (29 Januari 2022)

Gubernur Corner (15 Januari 2022)

Gubernur Corner (8 Januari 2022)

Gubernur Corner 25 Desember 2021

Gubernur Corner ( 06 November 2021 )

Gubernur Corner ( 30 Oktober 2021)

Gubernur Corner

KONFERENSI PERS - INFORMASI DAN UPDATE PENANGANAN COVID-19 DI PROVINSI RIAU

Gubernur Corner ( 09 Oktober 2021 )

Gubernur Corner

Presiden Jokowi Minta OJK Dukung Program Hilirisasi

Senin, 06 Februari 2023 | 16:15:34 WIB

Peduli Ekonomi Desa, Gubernur Syamsuar Terima Penghargaan

Kamis, 02 Februari 2023 | 22:38:12 WIB

Waspada, 4 Masalah Gizi Ini Berisiko Anak Jadi Stunting

Ahad, 29 Januari 2023 | 12:21:58 WIB

Prevalensi Stunting Turun, Namun Harus Tetap Waspada

Jumat, 27 Januari 2023 | 20:20:46 WIB

Yuk Cegah Stunting pada Anak dengan Protein Hewani

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:47:30 WIB

Presiden Apresiasi Kerja Keras Jajaran Tangani Pandemi

Kamis, 26 Januari 2023 | 14:59:50 WIB

Presiden Tegaskan Biaya Haji Tahun 2023 Masih Dikaji

Selasa, 24 Januari 2023 | 15:54:08 WIB

Berikut Mekanisme Pelaksanaan Rekruitmen Komcad 2023

Jumat, 20 Januari 2023 | 17:42:06 WIB

Menag Usulkan Ongkos Haji Rp69,1 Juta

Jumat, 20 Januari 2023 | 12:11:10 WIB