PEKANBARU - Dalam acara peresmian SMAIT Soeman HS yang bertempat di jalan Gunung Raya Pekanbaru, Selasa (17/5) Ketua Yayasan SMAIT Soeman HS, Mashuri menjelaskan sejarah singkat mengenai filosofi dipilihnya nama Soeman HS menjadi nama sekolah tersebut.
Dalam sambutannya Mashuri mengungkapkan bahwa Soeman HS merupakan seorang tokoh pujangga sastra, bahasawan dan tenaga pendidik kelahiran 4 April 1904 Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dan wafat pada 8 Mei 1999 di Pekanbaru pada usia 95 tahun. Soeman merupakan anak ke enam dari tujuah bersaudara dari pasangan Wahid Hasibuan dan Turumun Lubis. Namun kedua orang tuanya pindah ke Kabupaten Bengkalis setelah menikah.
Sementara terkait Riwayat Pendidikan, beliau menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu pada tahun 1912. Kemudian pada tahun 1919 beliau bersekolah di Normaal Cursus (pada masa itu setingkat SMP) di Medan, Sumatera Utara. Beliau lalu melanjutkan SMAnya di Normal School di Langsa, Aceh.
Soeman diangkat menjadi guru di Hollands Indlandsche School di Siak Sri Indrapura pada tahun 1923 – 1930. Setelah itu pada tahun 1930 – 1940 beliau diangkat menjadi menjadi Kepala di Sekolah Bumi Melayu di Pasir Pangarayan. Beliau juga sempat menjabat sebagai Kepala Jawatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pekanbaru, anggota Badan Pemerintah Tingkat I Riau pada tahun 1960 – 1966. Setelah itu pada tahun 1966 – 1968 beliau menjabat sebagai anggota DPRD Riau.
Pada tahun 1953, ia mendirikan SMA Setia Dharma yang merupakan SMA pertama di Kota Pekanbaru. Pada tahun 1962 beliau mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Riau atau kini dikenal dengan Universitas Islam Riau (UIR). Lalu pada 1963 beliau mendirikan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau dan menjabat sebagai ketua umum hingga akhir hayatnya.
Beberapa karya – karya beliau berjudul Mencari Pencuri Anak Perawan, Kawan Bergelut, Kasih Tak Terlerai, Percobaan Setia, dan lain sebagainya
“Namun sangat disayangkan karya - karyanya ini tidak dicetak dan disebarluaskan sehingga generasi muda Riau tidak mengetahuinya,” ujar Mashuri.
Dengan jasa – jasanya inilah nama beliau diabadikan namanya menjadi nama Perpustakaan Wilayah Riau.
"Cuma ada yang mengganjal dihati saya. Saya keliling di Puswil itu, tak ada nama Soeman HS. Hanya ada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau,” jelas Ketua Yayasan SMAIT Soemah HS.
Pada kesempatan ini juga Mashuri berharap Wagubri Edy Nasution dapat merubah hal ini, karena Soeman HS dipandang berjasa dalam menyumbang karya sastranya.
Menanggapi hal ini Wagubri langsung memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan untuk berkoordinasi dengan Dinas Perpustakaan Provinsi Riau untuk menelusuri, mencari dan menghimpun kembali karya – karya beliau (Soeman HS).
“Jika itu memang hak beliau, sudah ada keputusan seperti itu, bikinlah namanya. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap beliau,” jelas Wagubri.
Wagubri juga berharap dengan berdirinya SMAIT Soeman HS ini dapat memberikan edukasi terhadap masyarakat Riau.
“Tentu dengan berdirinya sekolah ini, bertambah pulalah kemampuan kita di Provinsi Riau khususnya SLTA untuk mencetak anak – anak Riau, tak hanya menjadi orang yang paham tentang ilmu dan teknologi namun juga memiliki akhlakul karimah,” tutup Wagubri.
Diketahui lahan dibangunnya sekolah tersebut diwakafkan atas nama Soeman Hs dari Najmah Hanum yang merupakan Putri dari Soeman HS.
(Mediacenter Riau/wjh)