Sabtu, 29 Rajab 1447 H | 17 Januari 2026
Kolaborasi UMKM dan SPPG, Program MBG Beri Manfaat Ekonomi Berkelanjutan
PIC Yayasan Putra Riau SPPG Sukajadi Dodi Sukma.

PEKANBARU - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya berperan dalam pemberian gizi pelajar, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Seperti halnya SPPG di Kota Pekanbaru, menjadi bukti nyata telah membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitat.

Perwakilan dari Yayasan Putra Riau SPPG Sukajadi Dodi Sukma, mengatakan bahwa keberadaan dapur makan bergizi gratis memberikan dampak ganda yang sangat signifikan. Menurutnya, dapur ini menjadi ruang baru bagi warga yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan.

“Adanya dapur MBG ini sangat mempunyai multiplier effect. Jadi ketika sebelumnya ada warga yang belum punya pekerjaan, kita rekrut bekerja di sini. Rata-rata pekerja di sini dari warga sekitar, jumlahnya ada 47 petugas disini,” kata Dodi di Pekanbaru, Jumat (5/12/2025).

Dijelaskan, SPPG Sukajadi tidak hanya melibatkan tenaga kerja, tetapi juga memanfaatkan rantai suplai dari berbagai pelaku ekonomi lokal. Melalui pola kemitraan, satu dapur saja sudah mampu memutar roda perekonomian daerah. 

“Untuk pemasok penyediaan bahan baku, kita menampung dari penyuplai lokal seperti UMKM, pembudidaya ikan, kelompok tani, hingga koperasi,” jelasnya.

Kegiatan produksi makanan setiap hari membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat stabilitas pendapatan bagi pelaku ekonomi lokal. Dodi mencontohkan perubahan besar yang dirasakan para pembudidaya ikan.

“Misalkan kalau dulu pembudiya ikan lele itu agak sulit memasarkan hasil panennya. Sekarang sudah ada dapur SPPG, target pasarnya jelas, gampang mereka untuk jual banyak,” tambahnya.

Tidak hanya peternak ikan, kelompok tani juga merasakan dampak serupa. Sayuran hasil panen mereka kini memiliki permintaan stabil dari dapur MBG. 

“Begitu juga kelompok tani, sayur-sayur mereka dapur sudah pasti menunggu hasil panennya. Karena makanan yang kita olah ini harus terpenuhi nutrisinya, pemasok sayur sangat penting bagi kami,” ujarnya.

Dengan kebutuhan bahan baku yang besar, para pemasok mendapatkan keuntungan dalam waktu cepat. Dodi memaparkan bahwa dapurnya setiap hari harus menyiapkan 3.199 porsi makanan bergizi, sehingga permintaan bahan baku tidak pernah berhenti.

"Dengan kami membeli dalam jumlah yang banyak, tentu bagi pihak-pihak pemasok bahan baku mendapat keuntungan cepat. Karena untuk satu hari saja dapur ini harus menyiapkan 3.199 ompreng," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Korwil Kota Pekanbaru, Helin Fauziah, menyebut SPPG Sukajadi menjadi salah satu yang paling aktif beroperasi. Hal tersebut karena, melayani banyak sekolah sekaligus.

“Dapur SPPG Sukajadi ini menampung 19 sekolah. Itu tentu dibutuhkan pekerja yang banyak, totalnya ada 47 orang,” ucapnya.

Helin menerangkan bahwa tingginya kebutuhan dapur otomatis memberikan ruang yang luas bagi UMKM untuk berkembang. Supplier besar maupun kecil lokal mendapatkan kesempatan memasok barang secara rutin.

“Pelaku UMKM yang bermitra dengan dapur pasti tiap hari memasok barangnya ke sini. Ini baru dari satu SPPG, sedangkan di Pekanbaru sudah terdapat 56 SPPG. Oleh karena itu, roda perekonomian warga dan UMKM tetap berputar melalui program makan bergizi gratis," terangnya.

Selain itu, dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirasakan oleh pelaku usaha kecil, salah satunya Wahyu Agus Rianda, pemilik Toko Harian di Jalan Delima. Sejak program ini berjalan, ia mengaku omzet tokonya meningkat pesat karena permintaan bahan pokok untuk kebutuhan SPPG naik signifikan.

“Alhamdulillah, sejak berlakunya program MBG ini di Pekanbaru, permintaan minyak goreng dan susu fresh milk ukuran mini semakin bertambah,” ujarnya.

Wahyu menuturkan bahwa penjualan minyak goreng di tokonya meningkat tajam dalam sepekan. Sebelumnya stok berjalan lambat, namun kini habis terjual dalam jumlah besar. 

“Dalam seminggu 17 karton minyak goreng isi dua liter habis terjual,” katanya.

Tak berhenti di situ, permintaan susu kemasan kecil juga melonjak. Wahyu menyampaikan bahwa setiap pekan tokonya bisa menjual hingga ratusan karton untuk memenuhi permintaan dapur MBG yang tersebar di berbagai titik. 

“Untuk susu fresh milk sekitar 400 karton bisa terjual, yang membeli sekarang itu jelas. Kita sekarang tidak takut untuk stok bahan banyak, karena dalam seminggu aja sudah terasa perputaran uangnya,” ungkap Wahyu.

Ia menilai program MBG bukan hanya membantu pelajar dalam mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga secara langsung membuka peluang ekonomi bagi toko-toko kecil di sekitar wilayah yang memiliki dapur MBG. Wahyu melihat bahwa program ini membuat rantai distribusi bahan pokok menjadi lebih terarah.

Kebutuhan harian yang besar dari dapur MBG memastikan penyerapan stok UMKM berlangsung konsisten tanpa kekhawatiran penurunan permintaan. Ia berharap kemitraan antara UMKM dengan SPPG dapat terus diperluas, sehingga semakin banyak pelaku usaha kecil yang merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

“Manfaatnya sudah sangat terasa. Kami harap MBG bisa berjalan lancar setiap tahunnya." pungkasnya.

(Mediacenter Riau/bib)

Info Lainnya

info riau sepekan 1

Info Riau

Berita & Info Lainnya

Podcast Dsikominfotik Riau

Gubernur Corner (29 Januari 2022)

Gubernur Corner (15 Januari 2022)

Gubernur Corner (8 Januari 2022)

Gubernur Corner 25 Desember 2021

Gubernur Corner ( 06 November 2021 )

Gubernur Corner ( 30 Oktober 2021)

Gubernur Corner

KONFERENSI PERS - INFORMASI DAN UPDATE PENANGANAN COVID-19 DI PROVINSI RIAU

Gubernur Corner ( 09 Oktober 2021 )