PEKANBARU - Tak sekadar mengenyangkan, program makan bergizi gratis telah dirancang lebih terukur dengan mengacu pada standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Setiap menu didalam ompreng memiliki tujuan, agar kebutuhan nutrisi harian siswa terpenuhi dengan proporsi yang tepat.
Ahli Gizi SPPG Pekanbaru, Nasiratul Diniyah, mengatakan bahwa penyusunan menu harian mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang rekomendasi gizi untuk anak usia sekolah. Menurutnya, kebutuhan gizi anak usia 6 hingga 18 tahun sangat bervariasi karena merupakan masa pertumbuhan aktif.
“Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan Pedoman Gizi Seimbang yang dianjurkan khusus untuk kelompok Anak Sekolah usia 6 hingga 18 tahun di Indonesia sesuai berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 28 Tahun 2019. Karena kebutuhan gizi sangat bervariasi selama masa pertumbuhan ini, AKG dibagi per kelompok usia dan jenis kelamin,” katanya di Pekanbaru, Jumat (05/12/2025).
Dijelaskan bahwa standar menu MBG disusun untuk mencukupi sebagian kebutuhan energi harian anak. Oleh sebab itu, AKG dibagi berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.
“Standar menu MBG ini dirancang untuk memenuhi 30% hingga 35% dari total Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian siswa, guna menopang energi belajar serta tumbuh kembang fisik. Komposisi piring makan siswa dibagi menjadi 35 persen makanan pokok, 35 persen sayuran, 15 persen lauk pauk, dan 15 persen buah-buahan,” jelasnya.
Diungkapkan, pengaturan porsi tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga demi memastikan variasi nutrisi yang lengkap. Untuk siswa SD, kebutuhan energi yang diterima melalui menu MBG berada pada kisaran 300-500 kkal. Sementara itu, untuk siswa SMP dan SMA, kebutuhan energinya lebih tinggi sehingga porsi ditingkatkan.
“Untuk siswa SD, target energi ditetapkan sebesar 300-500 kkal dengan porsi nasi sekitar 100 hingga 150 gram. Sedangkan, siswa SMP dan SMA, porsi ditingkatkan dengan target energi mencapai 600 kkal,” ungkapnya.
Dalam penyajian lauk pauk, protein hewani menjadi komponen utama. Ia menegaskan bahwa hal ini bertujuan mendukung perkembangan otak dan kecerdasan anak.
“Protein hewani menjadi prioritas utama dalam komponen lauk pauk sebagai langkah peningkatan kecerdasan. Menu wajib menyertakan daging ayam, sapi, ikan, atau telur, didampingi lauk nabati seperti tempe atau tahu,” tegasnya.
Penyajian buah-buahan segar juga wajib disertakan dalam setiap menu. Hal itu guna melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral, buah segar membantu menjaga daya tahan tubuh siswa.
“Penyajian buah diwajibkan dalam bentuk potongan segar. Tak hanya komposisi, tetapi juga tekstur makanan sangat diperhatikan, terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar. Ini dilakukan agar setiap siswa mudah mengonsumsi makanan tanpa risiko tersedak atau kesulitan mengunyah," pungkasnya.
(Mediacenter Riau/bib)