PEKANBARU - Bagi sebagian pencinta kopi, menikmati secangkir kopi bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Saat ini, konsumsi kopi telah menjadi gaya hidup yang banyak diikuti masyarakat di kota besar termasuk di Kota Pekanbaru.
Sudah banyak kedai atau kafe yang menyajikan kopi bermunculan di Pekanbaru, tapi tidak sedikit dari kafe tersebut hanya berfokus untuk menyediakan berbagai cita rasa kopi. Teknik yang mereka sajikan dalam membuat kopi pun berbeda-beda. Berbeda cara penyajian saja, maka akan berbeda juga rasa kopi yang dihasilkan.
Nah, salah satu teknik penyajian kopi yang sedang eksis di dunia perkopian adalah teknik manual brew. Teknik manual brewing merupakan salah satu cara menyajikan kopi yang diseduh dengan cara manual, tanpa menggunakan mesin espresso dan sebagainya tapi memerlukan kertas penyaring khusus.
Bagi pemula, mengenal manual brew mungkin terlihat rumit, tetapi sebenarnya, dengan memahami tips dan teknik dasarnya, siapa pun bisa memulai perjalanan mereka dalam dunia seduhan kopi manual.
Manual brew adalah teknik menyeduh kopi secara manual tanpa menggunakan mesin otomatis. Proses ini memungkinkan untuk mengontrol setiap tahapan seduhan, mulai dari suhu air, waktu penyeduhan, hingga perbandingan antara kopi dan air. Dengan demikian, barista bisa mengeksplorasi berbagai rasa dan aroma yang dihasilkan oleh biji kopi.
Teknik ini semakin populer karena memberikan fleksibilitas dan kepuasan tersendiri bagi para pencinta kopi. Beberapa alat yang sering digunakan dalam manual brew antara lain V60, French Press, Aeropress, dan Chemex.
Salah satu coffee shop di Pekanbaru yaitu Kopi Nganu, turut memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk merasakan karakter asli biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia, melalui teknik manual brew.
“Visi kami adalah memperkenalkan cara menikmati kopi dengan benar, sekaligus mengedukasi bahwa setiap daerah memiliki biji kopi dengan ciri khas rasa yang berbeda. Dari situlah lahir keunikan manual brew,” ungkap pemilik Kopi Nganu, Roni Suprianto, pada Jumat (19/12/2025).
Kopi Nganu sendiri, dikenal mengusung konsep specialty coffee, artinya setiap biji kopi yang disajikan benar-benar terpilih, mulai dari petani, proses sangrai (roastery), hingga uji rasa sesuai standar Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI).
Bahkan, Kopi Nganu juga memiliki roastery sendiri sehingga kualitas sangrai bisa diatur sesuai karakter rasa yang diinginkan. Hasil roast ini tak hanya dinikmati pelanggan di kedai, tapi juga menjadi suplai ke beberapa coffee shop, hingga ke seluruh daerah di Indonesia ini.
"Kami tidak hanya ingin memperkenalkan alat nya saja, tetapi juga mengajarkan bagaimana cara menikmati kopi dengan teknik slow coffee. Ini adalah pengalaman yang berbeda dan unik, dan kami berharap para penikmat kopi di Indonesia dapat menghargai dan menikmati proses ini," kata Roni.
Menu andalan yang selalu jadi favorit di antaranya Kopi Aren, Kopi Susu dan Amerikano. Selain itu, Kopi Nganu juga menghadirkan berbagai pilihan menu berbasis espresso maupun manual brew, yang bisa disesuaikan dengan selera pelanggan, seperti kopi Gayo Wine, Kelinci Natural, Gayo Honey dan Flores Full wash.
Tak hanya jadi tempat nongkrong, suasana rumahan dan tenang di Kopi Nganu juga membuatnya cocok sebagai ruang kerja, terutama bagi kalangan milenial, karyawan, hingga sandwich generation yang ingin tetap produktif sambil ditemani secangkir kopi.
Barista Kopi Nganu Stefani Rian Pratama, menyebutkan menyeduh kopi dengan teknik manual brew bisa melalui alat andalan yang digunakan adalah V60, alat penyeduh kopi yang dirancang khusus oleh Hario yang kini telah mendunia. Nama V60 diambil dari bentuknya yang menyerupai huruf "V" dengan sudut 60 derajat.
“Teknik ini memungkinkan penikmat kopi untuk merasakan nuansa rasa yang lebih kaya dan beragam, dibandingkan dengan metode penyeduhan lainnya," sebut Rian.
(Mediacenter Riau/nb)