PEKANBARU - Sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya kuliner di Kota Pekanbaru terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Perkembangan ini turut mendorong peningkatan kreativitas dan inovasi para pelaku usaha dalam menghadirkan konsep dan menu yang semakin beragam bagi masyarakat.
Bisnis kopi pun turut melambung dalam beberapa tahun terakhir, selaras dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Di Kota Pekanbaru misalnya, kafe, warung kopi jalanan hingga co-working space terus bermunculan dalam berbagai skala, dengan kopi sebagai sajian pilihan.
Pemilik kedai Kopi Nganu, Roni Suprianto mengatakan, selaku satu praktisi roastery mengaku hingga saat ini, Kopi Nganu Indonesia belum menerima bantuan khusus dari Dinas Perdagangan, baik dalam bentuk bantuan material seperti peralatan maupun penyuluhan atau pendampingan usaha.
“Jika dilihat, perkembangan bisnis kopi di Pekanbaru ini sudah sangat menjamur, banyak generasi muda yang pinter memanfaatkan peluang yang ada, namun sayang sekali perhatian Pemprov Riau dalam hal ini, Disperindagkop belum menyentuh ke dalam,” kata Roni Suprianto, pada Jumat (19/12/2025).
Dalam kesempatan ini, ia berharap adanya dukungan nyata bagi pelaku UMKM, khususnya dari Disperindagkop Riau, agar industri kopi di Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau dapat terus berkembang dan berdaya saing.
“Kami sangat berharap terutama bagi pelaku usaha yang berfokus pada pengembangan dan pengangkatan kopi lokal daerah, seperti Kopi Liberika Meranti Riau, bisa diberikan perhatian yang nyata dari pemerintah daerah,” harapnya.
“Ya bentuk bantuan yang kami harapkan itu bisa dari peralatan produksi, seperti mesin roasting, mesin sealer, dan mesin pendukung produksi lainnya. Lalu, pendampingan dan fasilitasi legalitas usaha, termasuk perizinan dan sertifikasi. Kemudian, penyuluhan dan pelatihan pengolahan pangan yang sesuai dengan standar nasional, guna meningkatkan kualitas produk dan keamanan pangan,” terang Roni.
Ia juga berharap sinergi antara pemerintah dan pelaku UMKM dapat terus terjalin demi kemajuan industri kopi lokal serta peningkatan ekonomi daerah.
Sementara itu, insan UMKM street kopi di area Cut Nyak Dien, Dika Ananda juga mengeluhkan hal yang sama. Ia merasa perhatian pemerintah daerah dalam hal ini Disperindagkop Riau tidak terlalu signifikan.
“Dulunya ada ikut rapat zoom di Korem 031 WB, diajarin bagaimana mengolah bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai jual, seperti barang bekas didaur ulang. Namun, untuk kopi belum ada perhatian yang diberikan, baik itu pelatihan, pendampingan maupun sebagainya. Tapi, untuk pembelajaran bagaimana mengolah barang bekas untuk dijual pernah terjadi,” sebut Dika.
Ia pun berharap Disperindagkop Riau, dapat memberikan perhatian kepada pelaku UMKM termasuk kopi, dengan memberikan pelatihan, pendampingan, cara meningkatkan kualitas produk, pelatihan pemasaran, branding produk dan bantuan untuk dapat mengikuti pameran dan semacamnya agar UMKM daerah bisa lebih naik lagi ke depannya.
“Kami juga berharap Pemprov Riau dapat menambah fasilitas tempat seperti di Taman Labuai Citywalk bisa diperbanyak (ditambah) lagi. Sebab di Cut Nyak Dien ini lebih ya kami selaku pelaku usaha bongkar pasang tenda stand, ya kalau ada fasilitas seperti di Labuai sana mungkin lebih mempermudah dan efisien waktu,” pintanya.
(Mediacenter Riau/nb)