PEKANBARU - Musik selalu punya cara menyatukan kenangan, menghadirkan nostalgia, sekaligus menghidupkan emosi para penikmatnya di setiap generasi. Hal itulah yang terasa saat Rumahsakit tampil memeriahkan RANS Carnival Pekanbaru di Halaman Kantor Gubernur Riau, Minggu (07/06/2026).
Ribuan penonton larut dalam nuansa britpop khas era 90-an yang dibawakan penuh nostalgia oleh Arief Bakrie dan kawan-kawan. Malam itu bukan sekadar konser biasa, kehadiran band asal Jakarta tersebut menjadi ruang temu antara kenangan lama, romansa, dan semangat skena musik independen yang hingga kini tetap hidup di hati para penggemarnya.
Rumahsakit yang terbentuk pada tahun 1994 itu membuka penampilannya lewat lagu lawas 90an berjudul "Hilang", kemudian disusul tembang “Anomali”. Dentingan gitar Marky dipadu vokal khas Arief langsung mengundang sorak penonton yang sejak sore telah memenuhi area festival. Mereka berdendang sambil mengangkat tangan, menciptakan momen intim meski konser berlangsung di ruang terbuka dengan ribuan penonton.

Suasana semakin hangat ketika lagu “Sandiwara Semu” dimainkan. Lagu ikonik yang begitu melekat dengan perjalanan musik Rumahsakit itu sukses membuat lautan penonton bernyanyi bersama tanpa jeda. Tak heran, lagu ini kembali ngetren di sosial media.
Lampu panggung yang temaram berpadu dengan nyanyian panjang dari para Pasien (sebutan bagi penggemar Rumahsakit). Banyak penonton terlihat saling merangkul sambil mengikuti lirik lagu yang sudah menemani perjalanan hidup mereka selama bertahun-tahun.
Nuansa romantis kemudian semakin terasa saat Rumahsakit membawakan lagu “Panasea”. Lirik yang lembut dan penuh makna membuat banyak pasangan saling menatap satu sama lain di tengah keramaian festival.

Beberapa penonton bahkan tampak merekam momen tersebut menggunakan ponsel mereka. Lagu itu seolah menjadi pengingat tentang cinta sederhana yang tumbuh lewat musik dan kenangan masa muda.
Memasuki pertengahan penampilan, Rumahsakit menghadirkan lagu “Duniawi”. Lagu ini membawa pesan tentang pentingnya mimpi, harapan, dan semangat menjalani hidup meski realita tak selalu sesuai keinginan.
Lirik-lirik reflektif yang dibawakan Arief terasa bagai menghipnotis penonton. Tepuk tangan panjang terdengar usai lagu selesai dimainkan.
Puncak klimaks pecah ketika intro lagu “Kuning” mulai terdengar. Lagu yang kerap disebut sebagai anthem skena musik indie pop Indonesia sejak dirilis pada tahun 2000 itu langsung disambut teriakan histeris para penonton.
Seluruh area konser berubah menjadi paduan suara. Dari bagian depan hingga belakang panggung, semua ikut menyanyikan lirik demi lirik lagu yang menjadi simbol penting perkembangan musik indie tanah air tersebut.
Di sela penampilannya, vokalis Rumahsakit, Arief Bakrie, mengenang perjalanan mereka ke Pekanbaru. Ia menyebut penampilan di RANS Carnival menjadi kali kedua Rumahsakit hadir menyapa penggemarnya di Kota Bertuah.
“Kita datang ke Pekanbaru ini sudah dua kali, pertama manggung di sini tahun 2024. Jadi wajar kalau kalian masih banyak baru nonton Rumahsakit,” ujar Arief dari atas panggung.
Arief juga mengaku senang melihat antusiasme penonton yang begitu besar terhadap musik Rumahsakit. Ia berharap kehadiran mereka di RANS Carnival dapat melahirkan lebih banyak Pasien baru di Pekanbaru.
“Terima kasih Pekanbaru sudah mau seru-seruan bareng kita. Semoga setelah ini akan banyak Pasien baru di sini ya,” lanjutnya disambut sorakan penonton.
Sementara itu, penggemar Rumahsakit, Muhammad Ragiel, mengaku sengaja datang bersama calon istrinya demi menikmati langsung lagu-lagu romantis yang selama ini hanya mereka dengarkan melalui pemutar musik.
Menurutnya, Rumahsakit memiliki ciri khas tersendiri dalam meramu lagu cinta yang sederhana namun membekas. Hal itu membuat karya-karya mereka tetap relevan lintas generasi.
“Top tiga dari kami tentunya Kuning, Panasea, Kabar Bahagia. Rumahsakit keren banget bisa buat lagu romantis yang mempunyai makna mendalam tapi enjoy dan seru didengar,” pungkas Ragiel.
(Mediacenter Riau/bib)